GitLab: Ratusan Karyawan, tanpa Kantor

Sejak didirikan tahun 2011, GitLab sudah memiliki lebih dari 100.000 klien dengan berbagai jenis kebutuhan.



Biasanya, menjelang pergantian tahun banyak orang yang ingin meninggalkan kantornya biar bisa memulai awal tahun baru dengan suasana kerja dan kantor yang juga baru.

Fakta ini sejalan juga dengan fakta lain di mana banyak perusahaan yang justru membuka lowongan pekerjaan dan membuka kesempatan kerja di akhir tahun. Slogan di keterangan ketika menyebar banner juga pasti sama; “Buat yang tahun baru pengen suasana kantor baru, silakan apply” dan semacamnya.

Dan kenyataannya di lapangan memang demikian. Banyak karyawan yang sudah merasa nggak betah di pekerjaannya sekarang memilih pindah di akhir tahun sebagai momentum.
Ya, buat karyawan yang punya kantor atau kerja di kantor sih, enak. Cuma cara dan slogan di atas nggak akan relevan untuk karyawan GitLab. Bagaimana mau relevan, GitLab sendiri saja nggak punya kantor!

Semua karyawan GitLab tanpa terkecuali bekerja secara remote alias dari jarak jauh. Tempat kerja mereka adalah warkop, kafe, co-working space, atau di kamar kalau lagi akhir bulan atau lagi malas keluar.

GitLab memang sebuah perusahaan yang anti-mainstream. Dengan total 275 orang karyawan yang tersebar di 37 negara, mereka sama sekali tidak punya kantor. Mereka semua bekerja jarak jauh dan hanya mengandalkan kekuatan internet. Namun, karyawan GitLab nggak asal kerja jarak jauh, mereka punya cara sendiri buat bikin kompetensi setiap karyawannya tetap terjaga dan semangat kerja tetap ada. Yang paling penting: pekerjaan selesai tepat waktu dan klien tetap puas.

Salah satu cara yang digunakan GitLab adalah Coffee Break Call. Jadi, dalam seminggu setiap karyawan diberi kesempatan untuk melakukan video call dan ngobrol dengan sesama karyawan secara acak. Mereka bebas ngobrolin apa pun di luar pekerjaan. Enak, kan?

Hal lain yang membuat GitLab tetap kompeten dan jadi andalan para klien untuk membereskan pekerjaan adalah karena setiap hal yang dilakukan oleh GitLab, mulai dari pekerjaan bersama klien hingga pengeluaran dan pemasukan, ditulis secara rinci dan transparan di situs web mereka sehingga karyawan terus termotivasi oleh karyawan lain untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat atau tepat waktu. Deadline? No more pain!

Dari sisi klien, mereka bisa mengira-ngira berapa besar anggaran biaya yang harus mereka habiskan jika bekerja sama dengan GitLab, tidak terlalu besar, dan sudah pasti tidak kemurahan juga.

Buat kamu yang belum tahu, GitLab adalah sebuah manajer repositori Git berbasis web dengan fitur wiki dan pelacakan masalah, menggunakan lisensi sumber terbuka, dikembangkan oleh GitLab Inc. Perangkat lunak ini ditulis oleh Dmitriy Zaporozhets dan Valery Sizov dari Ukraina. Kode yang ditulis adalah Ruby. [Wikipedia]


Sejak didirikan tahun 2011, GitLab sudah memiliki lebih dari 100.000 klien dengan berbagai jenis kebutuhan.


Namun, perekrutan karyawan GitLab juga tidak sembarangan. GitLab hanya memilih orang-orang yang kompeten dan disiplin waktu untuk mengerjakan setiap proyek kerja sama dengan klien mereka. Mereka adalah para pegiat coding terbaik di negaranya. Dan, mungkin, alasan kenapa GitLab membebaskan karyawannya untuk kerja secara remote adalah karena pekerjaan seperti coding adalah pekerjaan yang tidak bisa selesai sekali duduk. Bayangkan kalau harus selesai sekali duduk, bisa kena angin duduk itu karyawannya.

Kalau kamu adalah seorang programmer yang jago coding (bukan kodein pacar orang) atau punya kenalan yang kompeten di sana, coba sarankan mereka untuk melamar ke GitLab. GitLab terbuka untuk karyawan baru dan jika kamu memang kompeten dan CV kamu bisa memuaskan mereka, pasti akan langsung dihubungi untuk mengerjakan proyek perdana sebagai karyawan jarak jauh.

Oh iya, orang penting di balik suksesnya GitLab adalah Sid Sidbrandij yang kini menjabat sebagai CEO, Dmitriy Zaporozhets yang kini jadi CTO, dan Valery Zizov yang nggak jelas sekarang jabatannya apa. GitLab sendiri setelah delapan tahun masih tetap mengusung konsep “Tools for modern developers”.