Geliat Mobil Listrik di Indonesia

Diprakarsai oleh Jokowi sewaktu presiden RI tersebut masih menjabat sebagai wali kota Solo, mobil listrik dikembangkan di salah satu instansi bernama Solo Technopark.



Sejak kemunculan proyeknya di Indonesia, geliat mobil listrik terus merambah dunia otomotif. Diprakarsai oleh Jokowi sewaktu presiden RI tersebut masih menjabat sebagai wali kota Solo, mobil listrik dikembangkan di salah satu instansi bernama Solo Technopark.

Kemunculan mobil listrik dan perkembangannya juga turut menggaet salah satu ilmuwan kenamaan; Ricky Elson. Namun setelah beberapa tahun, rasanya berita tentang perkembangan mobil listrik ini tenggelam oleh kabar-kabar lain di Indonesia. Namun tahukah kamu bahwa sebenarnya Research and Development untuk mobil ini masih terus dikembangkan?

Meski kabarnya kalah dengan kabar-kabar politik, namun mobil listrik kini sudah mencapai tahap pengembangan hingga persentase angka 75%. Indonesia bahkan menargetkan penggunakan mobil listrik di tahun 2025 akan mencapai 20% dari total pengguna mobil yang ada. Seperti yang diberitakan di bulan Juni 2018, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika, sampai saat ini instansinya masih terus mematangkan persoalan definisi mobil listrik dan aplikasinya pada transportasi masa depan di Indonesia.

Mobil listrik yang dikembangkan di Indonesia ada beberapa jenis. Yang pertama adalah mobil listrik hybrid, dan yang kedua adalah mobil listrik full battery. Keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Jika dilihat baik-baik, transisi dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik memang tidak bisa sekaligus. Perbandingan harganya dapat dianalogikan sebagai berikut. Jika mobil konvensional harganya 100%, maka listrik hybrid harganya 130% dan mobil listrik murni atau full battery harganya bisa mencapai rentang 180%-200%. 

Menurut Dr. Muhammad Nur Yuniarto, salah satu peneliti mobil listrik dari ITS (tau ITS, kan?), mobil hybrid dapat menjadi lompatan bagi Indonesia untuk mendistribusikan mobil listrik. Mobil hybrid memiliki dua mesin penggerak yaitu tenaga bahan bakar fluida dan juga baterai. Keduanya berperan untuk menjadi bahan bakar mesin mobil. Listrik yang dihasilkan oleh laju rotor generator oleh bahan bakar fluida kemudian diubah menjadi energi listrik yang dicadangkan sebagai bahan bakar laju mobil.

Mobil listrik murni tidak lagi menggunakan bahan bakar fluida dan komponennya hanyalah baterai berbahan lithium dengan daya besar yang harus dicas secara berkala. Mobil jenis ini selain tanpa polusi, juga tidak membutuhkan penggantian oli. Namun karena harganya yang lumayan mahal, maka pemerintah Indonesia akan mencanangkan transisi dari mobil konvensional ke mobil listrik hybrid terlebih dahulu.

Mobil listrik ini nantinya akan diperlakukan seperti ponsel pintar. Dicas hingga memenuhi daya tertentu. Seri kekuatan daya simpan dayanya juga beragam. Makin besar daya simpannya, makin mahal pula harganya. Sama seperti ponsel, pengisian baterai pada mobil listrik juga membutuhkan waktu. Maka dari itu, di beberapa area publik nantinya akan dibangun sarana untuk battery charging sehingga masyarakat dapat beraktivitas sembari mobil diisi dayanya.