Teknologi VAR beserta Kontroversi di Sekitarnya

Sekarang ada teknologi baru dalam sepakbola yang dikenal dengan VAR (Video Assistant Referee, bukan Virtual Assistant Reality. Bedakan itu) yang selama Piala Dunia berlangsung di Rusia ini sudah menghasilkan banyak sekali kontroversi.



Sepakbola itu berproses.

Sepakbola berkembang, sama seperti olahraga lainnya. Sekarang ada teknologi baru dalam sepakbola yang dikenal dengan VAR (Video Assistant Referee, bukan Virtual Assistant Reality. Bedakan itu) yang selama Piala Dunia berlangsung di Rusia ini sudah menghasilkan banyak sekali kontroversi.

Sama seperti teknologi terobosan di bidang lainnya, VAR juga banyak mendapat penolakan. Banyak yang bilang esensi sepakbola jadi ternodai dengan adanya VAR ini. Tetapi di sisi lain membuat pemain jadi lebih jujur, atau dengan kata lain terpaksa tidak bisa berbohong.

Tidak ada lagi pemain yang bisa melakukan diving di kotak penalti lawan untuk mendapatkan penalti. Tidak ada lagi pemain belakang yang bisa menyembunyikan dosanya dari handball di kotak penaltinya sendiri. Dengan VAR, ke depannya kita tidak akan lagi bisa melihat wasit memberikan pelanggaran atas aksi-aksi lebay dan berlebihan dari Luiz Suarez, Neymar, ataupun Cristiano Ronaldo.

Suarez harusnya malu sama pemain legenda Uruguay, Diego Forlan. Forlan mana pernah diving? Neymar harusnya malu sama legenda Brasil lainnya, Pele. Pele mana pernah diving. Ronaldo harusnya malu sama legenda Portugal yang… ehm… legenda sepakbola Portugal siapa ya?

Namun wasit juga manusia. 

Dengan VAR, kini wasit bisa menjadi pemimpin pertandingan yang lebih bijak dari sebelumnya. Wasit punya hak untuk menentukan sebuah kejadian adalah pelanggaran atau bukan, patut diberikan penalti atau tidak. Meski kelihatan mengganggu dan terkesan membuang banyak waktu, tetapi lagi-lagi revolusi teknologi ini hanyalah masalah kebiasaan. Sama seperti penemuan-penemuan lain di berbagai bidang.

Lalu, mengapa teknologi VAR ini dimunculkan dalam sepakbola?

Sebenarnya beberapa pernyataan di atas sudah menjawab pertanyaan tersebut. Namun kita akan melihat lebih jauh lagi.

Sebelum VAR resmi diterapkan, ada satu teknologi bernama Goal Line Technology yang sudah lebih dulu diresmikan dan diterapkan di ajang Liga Champions Eropa. Di sepakbola modern, kita pasti ingat gol Frank Lampard ke gawang Jerman pada pagelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang dianulir wasit padahal bola jelas-jelas telah sepenuhnya melewati garis gawang saat kita sama-sama melihat tayangan ulang. Sayangnya saat itu belum ada teknologi garis gawang dan wasit yang juga adalah manusia biasa saat itu memutuskan bola tidak melewati garis gawang Manuel Neuer. Inggris pun kalah.

Jauh sebelum itu, pada Piala Dunia 1986 di Meksiko salah satu pemain legenda Argentina yaitu Diego Armando Maradona berhasil mencetak gol dengan tangannya tanpa ketahuan oleh wasit yang bertugas saat itu. adalah Ali Bin Nasser dari Tunisia yang memimpin laga tersebut, dan Inggris lagi-lagi adalah negara yang menjadi korban kegagapan teknologi dalam sepakbola masa itu.

Kini baik VAR maupun teknologi garis gawang sudah resmi diterapkan. Jad, kita tidak akan pernah lagi melihat gol Tangan Tuhan seperti yang dibuat Maradona, ataupun gol yang dianulir meski telah melewati garis gawang. Teknologi tentu saja sangat membantu keadilan di lapangan, meski mungkin betul akan sedikit mengurangi nilai atau esensi dari sepakbola itu sendiri. Tapi rasanya hal itu sah-sah saja karena toh dengan adanya VAR pun tidak lantas membuat pemain yang sering diving menjadi jera. Mereka tetap melakukannya. Di sisi yang berseberangan, tidak semua pemain pula sejujur Miroslav Klose atau Romelu Lukaku yang dengan tegas tidak meminta pelanggaran jika tidak merasa dirinya dilanggar.

Tetapi bagaimanapun, sepakbola tetap indah di mata penggemarnya. Dan teknologinya akan terus diperbarui seiring kebutuhan. Bisa saja suatu hari nanti kita tidak lagi melihat hakim garis berdiri di pinggir lapangan untuk menentukan seorang penyerang berada di dalam posisi off-side atau tidak. Bisa saja mereka akan tergantikan oleh teknologi lain, mungkin namanya juga VAR namun kepanjangannya Virtual Assistant Referee. Lagi pula, teknologi virtual saat ini sudah beredar dan sudah bisa dinikmati di beberapa negara maju. Tinggal menunggu waktu saja teknologi ini diterapkan di cabang olahraga lain jika bukan di sepakbola.

Soal diterima atau tidaknya sebuah teknologi, masalahnya bukan pada teknologinya. Tetapi manusianya.